Mahasiswa ISBI Serukan Orasi Keadilan di Tengah Demonstran
Jakarta – Suasana demonstrasi di depan Gedung DPR pada Kamis (22/8) menjadi saksi aksi orasi mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) yang menyuarakan keresahan mendalam atas situasi politik di Indonesia. Dalam protes menentang Rancangan Undang-Undang Pilkada yang dirancang oleh DPR hanya dalam satu malam, mahasiswa tersebut menyampaikan orasi dengan satire, mengkritik tajam hilangnya nilai-nilai Pancasila di tengah situasi yang sarat kepentingan politik.
Di hadapan ribuan demonstran yang menolak RUU Pilkada, mahasiswa ISBI tersebut berteriak lantang, “Berita kehilangan, satu. Ketuhanan yang Maha Esa, dua. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tiga. Persatuan Indonesia, empat. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, lima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Ucapannya menggema di antara massa yang hadir, yang kemudian serentak mengulang orasi tersebut. Pesan yang disampaikan dengan nada satire ini dianggap sebagai simbol hilangnya esensi Pancasila dalam proses politik yang sedang berlangsung. Di saat bangsa ini seharusnya mengedepankan demokrasi dan keadilan, proses legislasi yang tergesa-gesa justru mencederai nilai-nilai luhur yang menjadi dasar negara.
RUU Pilkada yang sedang digodok oleh DPR dituduh banyak pihak sebagai langkah yang tergesa-gesa dan penuh kepentingan politik tertentu. Banyak yang meyakini bahwa rancangan undang-undang ini dibuat untuk melanggengkan Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, untuk maju sebagai calon gubernur di masa depan. Hal ini menambah kekecewaan publik terhadap DPR yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan elite politik daripada aspirasi rakyat.
Mahasiswa ISBI tersebut, dengan orasi yang kuat dan menggelora, menegaskan bahwa keputusan cepat seperti ini tidak hanya merusak prinsip-prinsip demokrasi, tetapi juga menunjukkan adanya ketidakadilan yang semakin menguat dalam proses politik Indonesia. Ia menyindir bahwa Pancasila seakan menjadi “berita kehilangan”, menandakan bahwa nilai-nilai dasar bangsa sudah semakin terpinggirkan.
Orasi tersebut berhasil menghidupkan kembali semangat para demonstran yang merasa bahwa perjuangan mereka bukan sekadar menolak revisi yang terburu-buru, tetapi juga mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi fondasi bagi keberlangsungan bangsa.
Aksi mahasiswa ISBI ini mendapatkan respons positif dan memperkuat solidaritas para demonstran dalam menuntut keadilan, transparansi, serta penolakan terhadap intervensi politik yang merusak demokrasi. Dengan orasi penuh satire tersebut, ia tidak hanya menyuarakan kekecewaan tetapi juga menyalakan api perjuangan di tengah massa yang haus akan keadilan.
Leave a Reply